Nelayan Mabuk Laut

Ada pemandangan senada setiap kali kita memasuki kampung-kampung nelayan di mana pun, di pojok-pojok Nusantara. Di sepanjang 95.181 kilometer pantai Indonesia.

Selain pastinya bau amis ikan asin yang digarang panas matahari, pemandangan lumrah lainnya adalah anak-anak nelayan berperut busung berlarian tanpa pakaian. Mereka menelanjangi kemiskinan.

Berdasarkan data Kementerian Kelautan dan Perikanan tahun 2012, nelayan miskin di Indonesia mencapai 7,87 juta orang atau 25,14 persen jumlah penduduk miskin nasional. Rata-rata berpenghasilan tidak lebih dari Rp 500 ribu per bulan.

Pendapatan nelayan Indonesia tersebut berada di bawah standar garis kemiskinan yang ditetapkan Bank Dunia, sebesar Rp 520 ribu per bulan. Di negara yang katanya dilimpahi berkah laut, anak-anak nelayan justru kelaparan.

Bukankah katanya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sudah mengeluarkan Instruksi Presiden tentang Perlindungan Nelayan?

Cerita soal nenek moyangku seorang pelaut, kini jadi mitos. Orang laut tak lagi dapat mengarug luas samudra. Kapal-kapal motor tempel mereka hanya mampu mengarung jarak kurang dari 12 mil laut.

Perubahan nasib secara drastis itu terjadi dalam waktu yang belum terlalu lama. Sebelum tahun 80-an, kondisi ekonomi nelayan masih lebih baik. Nelayan-nelayan pada masa itu banyak yang masih mampu membayar ongkos naik haji dari hasil laut.

Sekarang boro-boro naik haji. Untuk ongkos menyekolahkan anak ke ibu kota kabupaten saja misalnya, para nelayan pasti sudah mengelus dada.

Bantuan Setengah Hati

Salah satu faktor penyebab seretnya ekonomi para nelayan adalah kepadatan populasi penangkap ikan. Di Kota Cirebon misalnya, ada 54 ribu nelayan yang berebut wilayah tangkapan ikan di sepanjang 7 kilometer garis pantai.

Menggunakan kapal yang lebih besar, nelayan dapat melaut lebih jauh ke tengah. Sehingga persaingan di perairan dekat pantai dapat dikurangi, selain jumlah ikan di pesisir yang juga sudah jauh berkurang.

Program restrukturisasi armada kapal perikanan sehingga memiliki bobot mati 60 gross ton, justru menjadi ajang penyelewengan yang merugikan para nelayan. Program bantuan seribu kapal yang diluncurkan Presiden itu tak banyak dinikmati nelayan.

Di Sumatera Utara, kapal-kapal yang diserahkan tahun 2012 terbukti tidak
layak beroperasi. Kapal-kapal dibangun dari bahan kayu sembarang, seperti kayu nangka dan mangga. Alat tangkap juga tidak sesuai spesifikasi.

Kapal-kapal bantuan itu ditaksir dibuat dengan modal Rp 600 juta hingga Rp 700 juta. Padahal total alokasi anggaran yang ditetapkan pemerintah untuk membangun kapal bantuan mencapai Rp 1,5 miliar per unit.

Bahan baku yang buruk menyebabkan banyak kapal bantuan tersebut sudah rusak atau tenggelam setelah dihajar ombak kurang dari setahun.

Jika ada nelayan yang beruntung mendapat bantuan perahu ukuran besar, masalah lainnya adalah ketersediaan bahan bakar. Meski pemerintah tahun ini menambah subsidi bahan bakar untuk nelayan menjadi 2,5 juta kilo liter, belum jaminan mesin kapal tidak bakal “pilek” kehabisan solar.

Sebab, dari rencana subsidi BBM nelayan 1,8 juta kilo liter tahun lalu, BP Migas hanya menyalurkan 1,4 juta kilo liter. Tidak ada penjelasan soal pengurangan jumlah distribusi solar untuk nelayan itu.

Pengurangan jumlah pasokan BBM bersubsidi untuk nelayan, menyebabkan banyak SPBU di kampung nelayan lebih sering melompong. Akibatnya, 70 persen nelayan yang bergantung pada bahan bakar minyak berharga murah itu, terpaksa membeli solar di SPBU umum.

“Sebelum harga BBM naik tahun lalu, nelayan sudah membeli minyak lebih mahal. Sebab, SPBU khusus nelayan sering kosong dan minyak dimonopoli para tengkulak,” kata Sekjen Serikat Nelayan Indonesia (SNI) Jawa Barat, Budi Laksana.

Impor dan Pencurian Ikan

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pernah menugasi Menteri Kelautan dan Perikanan, Sharif Cicip Sutardjo Cicip untuk menjamin ketersediaan bahan baku ikan untuk kebutuhan industri domestik.

Tugas itu gagal dijalankan Cicip karena keperluan konsumsi dan industri pengolahan hingga saat ini terbukti masih bergantung pada ikan impor. Data Badan Pusat Statistik hingga September 2012 menunjukkan, sedikitnya 40
produk asal ikan impor merupakan komoditas ikan yang dapat ditangkap dan dibudidayakan di Indonesia.

Sebagian besar berupa produk ikan beku, segar, kering dan diasinkan, seperti udang, cumi-cumi, tuna, tongkol, dan kerang.

Tumpahnya ikan-ikan impor ke pasar konsumsi lokal menyebabkan ekonomi nelayan semakin terpuruk. Ikan hasil tangkapan nelayan tradisional kalah bersaing dengan ikan impor yang harganya jauh lebih murah.

Konyolnya lagi, mungkin saja ikan-ikan impor itu sesungguhnya hasil tangkapan di perairan Nusantara. Kemungkinan itu bisa terjadi, sebab pencurian ikan oleh nelayan asing selama tahun 2012, semakin marak terjadi.

Hukum tidak tegas menindak para nelayan asing yang mancing di pekarangan laut kita. Kapal-kapal ikan asing yang ditangkap di Perairan Natuna, dibebaskan tanpa melalui proses hukum di Pengadilan Ad Hoc Perikanan.

Ini berlawanan dengan sikap pemerintah Malaysia yang langsung menindak nelayan tradisional Indonesia saat kedapatan melaut di zona perbatasan.

Aparat hukum juga ogah menindak pemilik kapal yang menggunakan alat tangkap merusak sejenis trawl. Di perairan Asahan, Sumatera Utara, 300 armada ikan yang ketahuan menggunakan jaring trawl, dibiarkan. Andaikan ada tindakan, hukumannya ringan sehingga tidak menimbulkan efek jera.

Tanpa proteksi terhadap nelayan, bisa dipastikan daya saing produk perikanan Indonesia bakal terus keteter dibandingkan negara-negara tetangga.

Ini dibuktikan dengan nilai ekspor hasil laut kita pada tahun 2011 yang hanya menyentuh angka US$ 3,5 miliar. Sedangkan Vietnam dan Thailand, mencapai nilai ekspor US$ 6,2 miliar dan US$ 8,5 miliar. Pangsa produksi udang Indonesia di pasar global, hanya menempati peringkat 4 di bawah Thailand, China, dan Vietnam.

Matahari tenggelam di kampung nelayan. Tantangannya bukan hanya angin barat yang mampu menggulung perahu, tapi juga ancaman ekonomi yang hampir pasti menjungkirkan periuk nasi.

sumber : vhrmedia.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: